Selalu Berhemat

edit.jpg

Setiap orang mempunyai prinsip-prinsip tersendiri, entah itu dari dari lingkungan maupun dari pencarian jati dirinya. Termasuk saya mempunyai prinsip yang mungkin berbeda dari orang lain. Salah satunya hemat. Sejak kecil prinsip ini adalah yang paling cocok dan yang paling saya senangi. Bagi saya berhemat dapat meringankan finansial. Berhemat dapat menghindari dari kesengsaraan, kesengsaraan yang saya maksud disini adalah tidak bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhan yang pokok. Lawan dari sifat hemat yaitu boros adalah menghambur-hamburkan uang demi sesuatu yang tidak penting. Dampak yang akan ditimbulkan dari boros akan muncul saat-saat seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok karena boros.

Membeli Makanan Yang Tidak Terlalu Mahal

Mahal atau tidaknya makanan sesungguhnya tergantung dari standar masing-masing orang. Namun, saya paling malas bila harus membeli makanan yang harganya di atas standar saya. Misalnya saja untuk sekali makan standar saya adalah Rp. 5000- Rp. 10.000. Kalau di atas itu saya malas membeli makanan kalau di atas harga tersebut. Melihat harga Rp. 30.000 untuk sekali makan bagi saya sudah kemahalan. Bagi orang lain bisa saja harga tersebut normal atau bahkan murah. Semua orang punya kapasitas masing-masing dan itu terserah mereka.

Kenapa saya paling malas membayar makanan di atas standar saya? Karena bagi saya itu terlalu sia-sia. Maksudnya sisa uang bisa digunakan untuk hal-hal penting lainnya misalnya untuk beli bensin. Kalau bisa makan enak seharga lima ribu kenapa harus cari yang dua puluh ribu. Kalau dalam bahasa jawanya itu maneman.

Cara saya berhemat dalam makanan adalah dengan menanak nasi sendiri. Selama menjadi mahasiswa, saya cukup rajin dalam menanak nasi. Hal ini bertujuan untuk memangkas biaya dalam makan. Dengan menanak nasi, saya tinggal membeli lauk. Biasanya saya cuma beli sayur, tempe dan tahu. Alasan saya selalu membeli sayur, tempe, dan tahu adalah karena suka (dan hemat tentunya) bukan karena terpaksa. Sebenarnya bisa membeli ayam goreng, namun ada sesuatu yang membuat saya menghindari makan ayam, ikan, dan sejenisnya. Kalaupun lauknya ditambah ayam, pengeluaran paling mentok Cuma Rp. 10.000. Alhasil untuk membeli lauk tidak sampai Rp. 10.000, bahkan seringkali hanya Rp. 5000. Saya pun menikmati keadaan seperti ini. Hemat sudah menjadi gaya hidup saya.

Dalam menunjang saya untuk berhemat, saya selalu menghafal warung-warung yang murah dan enak tentunya. Rasa kelezatan perlu digaris bawahi. Karena kelezatan juga untuk kepuasan saya terhadap makanan. Apa gunanya murah tapi tidak ada kelezatan pada makanan.

Cara Hemat Dalam Membeli Barang

Untuk menghemat membeli barang berbeda dengan membeli makanan. Perbedaannya bila membeli barang adalah mencari kualitas. Biasanya barang yang berkualitas sebanding dengan harga yang mahal. Kalau makanan enak bisa didapatkan dengan harga murah, namun untuk barang berkualitas didapatkan dengan harga yang tidak murah. Karena kualitas berkaitan erat dengan dengan daya tahan yang lama dan kuat.

Saya punya pengalaman membeli barang-barang murah yang tentu saja kualitasnya tidak sesuai. Rasanya senang di awal pahit di akhir. Senangnya karena harga yang murah, pahitnya karena umur barangnya pendek. Pada saat SMA saya selalu membeli tas yang harganya lima puluh ribu. Prinsip hemat memang sudah mendarah daging dalam tubuh jadi maklum. Sialnya, hanya dalam beberapa bulan tas tersebut sudah mulai rusak. Sobekan tas sudah terlihat di bagian bawah. Tak lama kemudian tas itu akhirnya rusak total.

Teman saya yang tahu tasku rusak, menyarankan untuk membeli yang mahal. Dia berkata daripada kamu beli tas murah tapi gonta-ganti terus, mendingan beli mahalan dikit tapi awet. Setelah saya pikir-pikir, ada benarnya juga sih. Akhirnya saya dan teman saya ini mulai berburu tas yang berkualitas. Akhirnya saya beli tas yang harganya sekitar dua ratus lima puluhan ribu. Tas itu sekarang sudah berumur empat tahunan dan masih bisa dipakai tanpa kendala

Saya rasa hal ini berlaku juga dalam membeli barang-barang lain seperti elektronik, sepatu, baju, celana, dan lainnya. Daripada dikit-dikit rusak, mendingan agak mahalan dikit gak papa. Namun, harga tetap harus diperhatikan. Jangan sampai mahalnya kebangetan. Misalnya kalau harga sepatu lima ratus ribu sudah mempunyai kualitas yang bagus jangan memaksakan membeli yang harga dua juta. Harga yang terlalu tinggi itu mewah namanya hehe. Jadi tetap diperhitungkan harganya.

Sebab-Sebab Lain Membayar Lebih Mahal

Membayar harga yang lebih mahal tidak selalu berkaitan dengan kualitas tapi ada sebab lainnya. Yaitu menghargai jasa seseorang. Saya kasih contoh yang sederhana adalah buku. Buku bisa didapatkan dengan murah walaupun dengan kualitas lembaran-lembaran bekas fotokopi. Selain itu tidak menghargai jasa penulis. Penulis yang royaltinya biasanya mendapat 10% dari penjualan buku akan merugikannya bila membeli buku bajakan.

Bayangkan saja anda sebagai penulis yang telah menghasilkan sebuah buku. Namun buku anda dijiplak dan harga dibuat anjlok. Ini akan menyakitinya. Mulai sekarang bisa dibiasakan untuk membeli buku yang original, karena dengan begitu jasa penulis akan dihargai.

Barang bajakan juga sedikit rumit bagi negara-negara yang ekonominya tidak terlalu bagus. Terkadang masyarakat membeli barang bajakan karena terpaksa. Sebab bajakan bukan hanya pada buku. Tetapi barang-barang yang lain seperti sepatu, baju, barang elektronik, dan yang lainnya. Karena ketidakmampuan dan harus membagi prioritas yang lainnya, barang bajakan menjadi solusi bagi mereka. Saya pun juga memahami fenomena seperti ini juga sedikit sulit.

Terlepas dari semua itu, setidaknya kita harus mengurangi dalam membeli barang bajakan. Dikarenakan untuk menghargai jasa pembuatnya. Kalau dari saya, untuk membeli buku lebih baik membeli yang original sekalian. Karena karya buku yang tebal harganya ratusan ribu, saya rasa nanggung bila hanya beli buku yang harganya sengaja dijatuhkan menjadi tiga puluh ribu saja. Kembali ke alasan awal yaitu mengahrgai jasa penulis

Jangan Membeli Barang Lagi Selama Belum Butuh

Ketika seseorang mempunyai uang yang banyak, dia akan cenderung membeli barang-barang yang disukainya. Tidak jarang orang membeli barang padahal dia sudah cukup jumlah barang yang dipunyainya. Misal orang membeli celana jeans padahal dia sudah punya sepuluh. Merasa tidak cukup akan melanda kepada orang-orang yang sedang punya banyak duit.

Saya punya pengalaman seperti itu. Barang yang paling saya suka adalah buku. Di rak buku saya masih ada beberapa buku yang belum dibaca. Namun, ketika sedang ada uang lebih, entah datangnya dari mana ada hasrat untuk beli buku lagi. Manusia juga punya salah. Menahan hasrat dikalahkan oleh hasrat itu sendiri. Akhirnya saya membeli buku baru lagi. Saya mungkin bisa menyelesaikan buku baru, tapi tetap saja buku-buku yang masih di rak masih saja belum dibaca habis. Saya menyayangkan diri saya sendiri dan belajar untuk lebih mengatur hasrat untuk membeli barang.

Memang yang paling susah adalah untuk merasa cukup. Selalu saja barang yang kita miliki adalah kurang. Khususnya terhadap barang yang kita sukai. Kita harus pintar-pintar dalam mengatur keinginan beli barang agar terhindar dari sifat boros.

Satu lagi jangan terlena dengan diskon. Melihat barang diskon 50% terkadang meningkatkan keinginan untuk membeli barang tersebut. Padahal sebenarnya tidak butuh. Hanya karena melihat diskon, orang berpikir “Ah.. mumpung diskon, nanti juga butuh” atau “kapan lagi bisa diskon seperti ini”. Suara-suara itu bakal terus menggoda manusia. Kita harus pintar-pintar menahannya.

Nah, jadi prinsip hemat tidak hanya sekedar membeli barang dengan harga murah tetapi juga memikirkan kualitas. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.

Advertisements

Sesekali Berliburlah!

IMG_20190126_170734.jpg

Seseorang dituntut untuk belajar dalam memahami suatu pelajaran. Terlebih lagi seorang mahasiswa. Bagi sebagian mahasiswa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan, bagi sebagian mahasiswa lainnya adalah neraka. Nah.. disini saya yang berpengalaman sebagai mahasiswa, untuk kalian yang benci belajar maupun yang suka belajar sesekali berliburlah. Entah itu ke bioskop, ke candi, ke gunung, atau ke pantai. Mencuci mata dengan pemandangan yang indah dapat menyehatkan daripada harus melihat sekumpulan tulisan yang rumit (belajar). Belajar terus menerus dapat mengakibatkan stress. Bayangkan saja, kalau terlalu berlebihan alhasil menjadi banyak pikiran. Untuk menyegarkan otak kembali bisa dengan liburan.

IMG_20190126_170714.jpg

Pengalaman liburan membuat pikiran lupa terhadap belajar untuk sementara. Waktu-waktu tersebut adalah sebagai proses refreshing otak. Penyegaran kembali. Tidak hanya otak sebenarnya, tetapi tubuh juga. Begini, saya yang pernah ke pantai atau ke candi ijo, benar-benar merasakan betapa indahnya alam. Angin sepoi-sepoi bisa membuat tubuh menjadi fresh kembali. Melihat sunset berwarna merah kuning yang jarang melihat di kos. Sederhana, namun kita membutuhkan hal-hal seperti itu. Bila kita bisa menerima tekanan, kita juga bisa mencari kelonggaran.

IMG_20190126_172101.jpg

Setidaknya dengan keluar dari zona seriusmu, akan menjadikanmu lebih mengenal lingkungan. Cobalah sekali-sekali ke wisata yang ada. Kekaguman akan muncul “oalah, ternyata indonesia punya alam seindah ini”. Negara yang mempunyai keindahan alam, tetapi apabila kita tidak pernah menghampirinya, maka kita juga tidak akan mengenalnya. Lihatlah bahwa negara ini kaya, maka hatimu akan senang. Bukankah kalau melihat kekayaan akan menjadi senang? Apalagi kita yang memilikinya sebagai warga negara Indonnesia.

IMG_20190126_174110.jpg

 

Membaca

 

Buku.jpg

Indonesia termasuk salah satu negara yang minat bacanya rendah. Malas dalam membaca ternyata berdampak pada “menyimpulkan sesuatu”. Apapun itu dalam kesehariannya. Maka tidak heran apabila ada penyitaan buku yang hanya membaca “judul” itu sama saja dengan “kesimpulan”, atau bahkan tidak membaca “judul” dan “isi”, tapi sudah menyimpulkan. Saya pernah mendengar dari dosen bahwa biasanya seseorang mempercayai apa ingin dipercayai, bukan karena melalui fakta dan analisis yang jelas. Misalnya saja menggosip, membicarakan seseorang yang hanya melalui cerita yang dibuat-buat. Selain itu ada saja yang percaya lagi-lagi gosip tapi hanya dari satu sisi saja (kadang bukan dari sumbernya). Tentu saja, minat membaca harus ditingkatkan lagi. Setidaknya mengurangi hal-hal seperti itu. Karena sejatinya membaca bukan hanya berkaitan buku tetapi juga kehidupan sehari-hari.

Membaca bagi saya merupakan hobi yang bermanfaat. Kadang-kadang saya tidak peduli genre apa yang saya baca, pokoknya baca saja. Mulai dari yang menye-menye sampai hal-hal yang berbau politik. Alhasil, saya merasa ada perubahan. Perubahan yang saya alami terutama dalam hal wawasan. Yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Maka, benar lah apabila buku itu adalah jendela dunia.

Perubahan yang lainnya adalah kepo atau keingintahuan. Ketika satu buku sudah selesai. Biasanya saya tertarik untuk buku lain yang lebih menarik atau setidaknya buku yang ditulis oleh penulis yang sama. Keinginan seperti itu akan terus ada. Apalagi ketika sudah memasuki toko buku, rasanya semua buku ingin diserbu layaknya ibu-ibu yang pergi ke mall yang ingin memborong semuanya. Kadang saya tak yakin apakah seperti ini akan baik atau tidak. Namun, yang saya yakini hal seperti itu lebih baik daripada menghabiskan uang hanya untuk minum-minum (tidak bermaksud menyinggung), ini hanyalah subyektif dari saya.

Ada lagi perubahan yang saya rasakan, yaitu membaca menjadi sebuah kebiasaan. Karena rasa keingintahuan yang tinggi, waktu kosong saya gunakan hanya untuk membaca. Ini menjadi jawaban atas dari pertanyaan “hari ini mau ngapain ya?”. Ketika sedang bingung akan melakukan aktifitas apa, membaca menjadi solusinya. Tahu sendiri kan, ketika masa-masa skripsi banyak waktu senggang. Ditambah keadaan yang lagi bokek di akhir bulan. Kamar kos serasa hotel sekaligus penjara bagi mahasisiwa.

Sebagai penutup, membaca dapat mempertajam nalar manusia. Ketika nalar manusia sudah menjadi tajam, hal-hal yang berbau tidak penting dan konyol bisa ditinggalkan. Lihat saja di telvisi-televisi yang berisi infotainment, memberikan berita perseturuan artis yang menjadi nilai jual. Entah mengapa orang-orang suka seperti itu. Orang-orang yang bisa berfikir bakal mungkin akan berkata “nih bocah ngapa yaak”. Apapun itu walaupun minat baca orang indonesia rendah, jangan pernah pesimis dan tingkatkan indonesia gemar membaca.

My Father My Hero

 

img_3918

I’m 22 year now. I’m college too. Suddenly, I remember my father. Oh god…. he always do anything to me, although just pray. He always be patient about my attitude and my behavior. He is just normal father. He is not president, not CEO, or rich man. But more important, he always accompanied me when i was child. Wherever I went, I called “father…father..”. Please bought that toy, like that. Now, my time with my father is not like when i was a child. Not always together. Sometimes in six month, I just meet him once or two times.

Because I’m in the another country now, I just can call my father by phone. But I’ll do my best to get my study and my job. Just that can I do to give the gift to my father. I think whoever you are, don’t forget your father. Your father is who hard working for your life. Whenever you are, don’t forget your father. Because he always take care of you by pray.

So what can you do for your father?

Waktu Diisi Dengan Bekerja

IMG_20190111_141603.jpg

Masa-masa skripsian telah tiba. Ciee… udah makin tua aja. Sudah tidak terasa enam semester telah kulalui. Asli, rasanya menjadi mahasiswa baru itu seperti hari kemarin. Ingat sekali waktu dulu pertama mencari kos-kosan yang harganya sesuai. Sampai sekarang aku masih setia pada kos yang sejak awal aku tempati. Bukannya tidak ingin pindah, tapi malas untuk mindahin barang-barang. Merapikan barang, memindahkan barang, mengeluarkan barang lagi di tempat yang baru. Mikir segitu aja sudah malas, seberapa besar nanti energi yang terbuang.

Nah, masa-masa skripsi berarti waktuku lebih banyak kosong. Untungnya setiap semester aku selalu ambil 24 sks, jadi di semester 7 sudah tidak perlu mengikuti matkul lagi. Tugasku yang tersisa hanya satu yaitu skripsi. Masa-masa ini sudah aku tungu sejak dulu. Dari dulu aku ingin bekerja, apapun itu yang penting halal dan menambah uang jajan. Mumpung sekarang sudah selooooww.. aku mencari-cari gawean. Akhirnya kudapati juga. Pekerjaanku adalah jualan es coklat. Kebetulan temanku mempunyai gerobak es coklat yang dia beli lewat franchise. Dia juga butuh orang untuk membantu jualan es coklat. Langsung saja aku bilang padanya untuk membantunya. Untuk gaji pastilah tidak seberapa, tapi lebih mendingan daripada menganggur.

Aku paling benci menganggur. Kalau sedang liburan semesteran atau liburan lebaran, jujur aku tidak suka. Alasannya liburnya terlalu lama. Libur yang terlalu lama membuat kita menganggur dan hanya plonga-plongo di rumah. Entah mungkin yang aku rasain sama enggak dengan orang lain. Kalau sudah pulang di rumah, mau ngapa-ngapain itu malas. Mau belajar aja malas. Alhasil hanya buka hp sambil tidur-tiduran atau mainan laptop. Kalau kalian juga malas pulang di rumah dan benci menganggur, kita senasib. Mungkin ini adalah akibat dari kelamaan merantau. Saking lamanya, dalam jiwa tertanam kemandirian untuk survive. Kondisi di rumah kan apa-apa sudah ada. Makanan sudah ada, lantai sudah dibersihin ibu, apapun itu serba ada. Namun itulah yang akan menimbulkan kemalasan. Kalau di perantauan kan kita akan merasa “oh ya, orang tua sudah membiayai kuliah, belajar harus sungguh-sungguh” atau di kos harus benar-benar hemat uangnya agar di akhir bulan tidak menderita. Jadi terasa nikmat akan perjuangan.

Kembali di topik bekerja, selama bekerja aku belajar sesuatu bahwa mencari uang itu memang tidak mudah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana orang tua benar-benar harus bekerja keras untuk membiayai anak-anak sekolah. Dan inilah manfaatnya merantau. Waktu dan uang harus dimanfaatkan dengan baik, kalau tidak, akan menjadi hal yang tidak berguna dan sia-sia.

Membaca

Membaca adalah hobi yang paling saya senangi di waktu senggang maupun ketika bekerja. Bagi saya hobi ini bisa membuat waktu saya tidak terbuang sia-sia. Daripada melamun atau main hp lebih baik membaca buku. Beruntung, kerja sampingan saya adalah berjualan es coklat milik teman saya. Sembari menunggu pelanggan, saya habiskan waktu untuk membaca. Tidak terasa tiba-tiba sudah satu jam-dua jam saya membaca. Buku bisa menjadi alih perhatian dari hp. Karena sekarang pengaruh hp benar-benar kuat. Kadang-kadang ada orang yang main instagram satu sampai dua jam untuk melihat story. Dan entahlah itu bermanfaat atau tidak. Hal-hal seperti itu memang tidak terasa, tau-tau eh udah jam segini, padahal kerjaannya hanya maen hp. Apapun itu alangkah lebih baik bila kita mengurangi ketergantungan pada hp. Maksudnya kalau benar-benar tidak ada hal yang penting maka kurangilah bermain hp.

 

 

Kesuksesan?

Saya pribadi sebenarnya bertanya-tanya tentang arti kesuksesan. Apa sih sukses itu? Ukurannya apa? Lalu kalau sudah sukses kenapa? Biasanya orang-orang menilai kesuksesan diartikan sebagai popularitas dan kekayaan. Misalnya artis yang sudah membintangi banyak film dan kaya raya dikatakan sebagai kesuksesan atau seorang pengusaha yang telah mempunyai banyak cabang juga dikatakan sukes. Perlu diketahui bahwa sebenarnya sukses tidak hanya dipandang secara materi dan popularitas, namun banyak hal. Misalnya dalam hal rumah tangga, pendidikan, mendidik anak, keagamaan, kesehatan, moral, dan sebagainya.

Ada orang yang hidupnya biasa-biasa saja tapi kehidupan keluarganya bahagia. Ada orang yang tidak kaya tapi umurnya sampai kakek-kakek masih sehat-sehat saja. Ada orang yang wajahnya tidak tampan tapi dapat wanita cantik. Ada orang yang hidupnya miskin tapi semangat dalam beribadah. Ada orang yang dulunya nakal sekarang jadi tobat.

Ada orang kaya tapi hidupnya tidak bahagia. Ada orang terkenal tapi melakukan korupsi. Ada orang pengetahuan agama tinggi tapi moralnya buruk. Ada orang gelar pendidikannya tinggi tapi tidak menikah. Ada orang kaya tapi sakit-sakitan. Ada orang tampan tapi pilih-pilih pasangan akhirnya tidak menikah.

Lalu apa yang bisa diambil pelajaran dari penjelasan di atas? Bersyukur dan lakukan yang terbaik. Jangan kita merasa iri dengan kekayaan dan popularitas orang lain. Itu sudah jadi rejeki mereka. Kita sudah ada rejekinya sendiri. Jangan salah, anda tidak menjadi terkenal bisa jadi itu rejeki. Tidak menjadi orang kaya bisa jadi itu rejekimu. Kok bisa? Menjadi orang terkenal, gerak-geriknya selalu diketahui orang-orang. Sesuatu yang tidak disukai oleh orang-orang walaupun sepele bisa jadi kesempatan untuk melakukan komentar ganas. Lebih enak jadi biasa saja kan? Hehe. Orang kaya jangan dikira hanya duduk-duduk saja, mereka bahkan berfikir keras bagaimana untuk terus bertahan di tengah-tengah persaingan tidak sehat. Lebih enak jadi penghasilan yang cukup aja kan? Bisa punya waktu untuk keluarga.

Lantas kalau sudah sukses, bukan berarti berleha-leha. Justru harus selalu ada evaluasi dan memperbaiki diri agar bisa bertahan dan melangkah maju. Orang yang sudah sukses dalam usahanya bukan berarti tantangannya selesai karena akan ada saingan-saingan baru yang lebih kompeten. Siapapun kalian yang sudah sukses harus mengembangkan diri lagi.

Bukan berarti dari tulisan ini untuk memotivasi jadi orang biasa-biasa saja, bukan itu. Apapun profesimu dan pekerjaanmu tetap lakukan yang terbaik. Capailah cita-citamu. Urusan menjadi terkenal atau kaya itu urusan nanti. Kalau dikasih rejekinya untuk terkenal dan kaya yasudah syukuri. Kalo enggak, juga disyukuri. Semua ada sisi baik dan sisi buruk. Lihatlah sekelilingmu, bisa jadi apa yang kamu punya sekarang belum tentu dimiliki orang lain. Jadi bagi kalian yang masih galau karena tidak terkenal dan tidak kaya. Syukurilah, bisa jadi itu kesuksesanmu.