Berbicara Mengenai Hobi

Pernahkah berpikir mengenai hobi teman kalian, dari yang keren sampai yang paling aneh. Mulai dari membaca, menulis, memotret, memelihara hewan, berenang, coding komputer, menggambar, melihat kereta, melihat bis. Untuk yang dua terakhir memang ada. Yang sangat suka melihat kereta, dihafalnya nama-nama kereta dan jadwal-jadwal keberangkatan. Orang yang suka melihat bis, saya rasa juga tidak ada bedanya. Mungkin terbesit dalam pikiran kita, kenapa hobinya aneh seperti itu? Atau pertanyaan lainnya, kenapa sih orang suka sekali dengan hobinya?

Apapun itu, itu hak mereka. Selama tidak merugikan orang lain itu sah-sah saja. Mereka punya cara sendiri untuk mencari kesenangan. Tapi yang namanya manusia kalau tidak berkomentar, terasa tidak asyik. Saya pun kadang heran dengan orang yang memelihara kucing, bukankah harga kucing itu mahal? Biayanya perawatan juga tidak sedikit, belum lagi ngurus kotoran-kotorannya. Belum lagi kalau kucing sedang sakit. Membayangkan aja sudah malas. Tapi ya akhirnya saya berpikir lagi, suka-suka dialah lha ya yang punya hobi dia kok, kenapa harus sewot. Apapun hobimu, setidaknya ada orang yang protes “kenapa sih suka bla…bla…bla….”. Ya yang seperti ini lewati saja.

Baik disini saya akan ceritakan teman saya yang suka sama kereta. Entah kenapa dari kecil dia emang suka hal-hal yang berbau dengan kereta. Mulai dari keretanya jenis apa, jadwal, biaya, komunitas, sampai berapa gaji penjaga stasiun dia tahu. Sampai ada orang yang mau tanya berita kereta api, tanyanya ke dia.

Tidak sedikit yang mengolok-ngoloknya hobi yang menurut mereka “aneh”. Mulai dari melihat-lihat kereta, berkembang untuk memotret. Memotretnya pun tidak jauh-jauh hobinya, yaitu memotret kereta. Dan saya lihat galeri-galeri di kamera DSLR-nya isinya kereta semua. Sama sekali tidak ada foto lainnya. Asli. Kebiasaan temanku yang memotret kereta ini pun tidak jarang mendapat ejekan. “Apasih bagusnya motret kereta?”. Temanku ini sikapnya cuek-cuek aja. Bodo amat.

Saking seringnya motret kereta api, foto-fotonya sering diambil untuk promosi KAI di sosial media. Hebatnya lagi salah satu start-up di bidang traveling mengabadikan fotonya di sosial media juga, dan temanku ini mendapat komisi berupa voucher. Selain itu, kontribusinya memotret kereta, dia pernah diundang ke acara KAI. Acaranya seperti outbound gitulah dan gratis. Jadi apapun hobi teman kita janganlah kita olok, biarkanlah atau mendukung. Karena mereka akan mendapatkan sesuatu yang hebat dari hobi mereka.

Advertisements

Memang Orangnya Seperti Itu

Aku punya teman di kos sebut si om, kamarnya berada di sebelah kamarku. Dia juga merupakan teman SMP, SMA, dan kuliah. Banyak orang yang sebal sama dia. Tak jarang teman-temannya juga sering ghbahin dia. Usut punya usut, banyak yang membenci temanku ini karena yang pertama, dia ceplas-ceplos. Apapun yang ada di pikirannya entah itu buruk atau baik semua diungkapkan. Katanya dia itu tidak ingin menjadi munafik. Mungkin dia sudah sebal dengan orang-orang yang di depan bermuka manis tapi di belakang menusuk. Bahasa-bahasa sarkas dan pisuhan tidak pernah absen setiap kali kita ketemu. Sampai aku pun hafal apa saja pisuhan-pisuhannya. Kedua, suka bikin onar. Ya dari SD sampai kuliah rasa-rasanya sering kudengar kalau dia sering mempunyai konflik dengan orang lain. Bahkan sampai berantem pun ada. Baik dia pulang dari kuliah maupun dari bekerja, selalu saja membawa oleh-oleh berupa cerita konfliknya. Bagiku asyik mendengar cerita-cerita perkelahiannya haha. Ketiga, keras kepala. Kalau dia sudah mempercayai suatu kebenaran yang dia percayai, mau setan mau menyusupinya kayaknya juga gak bakal berubah. Pernah suatu ketika dia sedang makan di warung makan, untuk mengambil nasi pelanggan bisa ambil nasi sepuasnya. Nah si om ini sudah mengambil nasi sampai menggunung. Dia melihat sebelahnya seorang cewek ngambil nasi cuma sedikit. Alhasil mulut tak berdosanya keluar “ambil nasi kok dikit-dikit amat”. Si cewek yang denger ucapan si om ini hanya bisa terheran-heran diam. Pas sampai di kos dia menceritakan ini padaku, “Ya kan bisa aja dia diet kan, cewek kan emang biasa kayak gitu”. Tetapi dia tetap bersikeras, menurutnya kalau sudah diberi kebebasan untuk ambil nasi sepuasnya , sebaiknya dimanfaatkan. Yaa terserah luuu tong.

Bagaimanapun juga karena saya orangnya cuek dan suka guyon. Maka sikapku pada temanku ini ya buat guyon-guyon dan biasa-biasa saja. Terkadang ngakak juga dengar dia berselisih sama dosen atau sama temannya. Sindiran-sindiran sarkasnya dibalut dengan ciri khasnya bercerita. Kalau sudah gini ya kita ketawa-ketawa aja sih. Namun, berbeda dengan teman-temannya yang merasa “tidak betah” dengan temanku ini. Merasa risih. Mungkin kalau ada teman lain yang bertanya kepadaku “kenapa sih kamu kok betah banget temenan sama dia”, bakal aku jawab “ya karena aku gak punya masalah dan yaa… dia orangnya emang seperti itu sih”. Ini seperti film “my stupid boss”, ketika si kerani curhat kepada suaminya karena bos nya sangat menjengkelkan, suaminya hanya menjawab “ya dia orangnya emang seperti itu”.

Sekalipun menurut teman-teman lain orangnya menyebalkan. Tetap saja masih ada sisi baiknya. Selama berteman dengannya terdapat beberapa hal positif yang ada pada dirinya. Yaitu tidak munafik, tegas, sederhana, cepat bersosialisasi. Tidak munafik seperti yang aku ceritakan sebelumnya bahwa apa yang ada di pikirannya diungkapkan semua. Tidak jaga image. Kalau ada sesuatu yang salah ya dia akan bilang salah, nggak malah kok perkewuhan. Terus sifat tegas ini, kalau sudah bilang A ya A terus, susah untuk dipengaruhi. Tapi kadang nyebelin juga sih kalau nganggep dirinya paling benar haha. Sederhana dalam hal ini tidak terlalu foya-foya dan tidak panjat sosial. Terus dia juga cepat bersosialisasi, jadi kadang kalau ketemu penjaga warung, tukang parkir, penjual roti bakar, atau siapapun mudah berteman.

Yang mau saya tulis di sini bahwa namanya orang itu tidak sempurna. Selama dia orangnya masih baik (tergantung perspektif masing-masing), bisa kita terima dengan baik-baik. Semua orang punya kekurangan dan kelebihan. Untuk mengetahui siapa orang sebenarnya dan bagaimana wataknya, setidaknya tinggal di dekat lingkungannya. Untuk mencari sebuah hasil yang obyektif. Barangkali kalau tidak seperti itu, kita hanya bisa mendengar dari obrolan orang-orang.

Muda Harus Sudah Dewasa

Pernah mendengar orang mengatakan “Tobat nya nanti saja deh, kan belum tua” atau “Tobat? Nanti aja pas udah tua”. Dari kalimat ini saja, kita menyadari bahwa untuk tobat lebih dini dianggap terlalu cepat. Orang-orang yang umurnya masih muda ingin menikmati bersenang-senang dahulu. Bodo amat lah maksiat, yang penting senang dulu. Ya itu adalah yang sudah melekat kepada masyarakat. Padahal memperbaiki diri atau mempelajari agama di hari tua tidaklah muda. Memang ada beberapa yang bisa, tapi aku rasa itu di bawah rata-rata. Dan ada lagi yang pernah aku dengar, bahwa kalau usia sudah mencapai umur 40 tahun, maka sifat manusia akan sulit diubah. Hidup hanya sekali, hidup muda juga sekali. Aku rasa memang masa muda harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Sekarang umurku sudah 22 tahun. Dan pada masa-masa itulah, saya sudah melihat berbagai macam peristiwa kehidupan. Kematian, cinta, pekerjaan, teman, hobi, kedewasaan, kemunafikan, ketidakdewasaan, kebodohan, dan masih banyak lagi. Semanya sudah merasuk ke dalam otak dan hatiku. Semua macam peristiwa kehidupan memaksa harus mengambil jalan yang diambil. Jalan yang diambil tentu saja harus mengandung unsur kebaikan dan kebermanfaatan. Sudah bukan lagi melakukan sesuatu yang seenaknya atau tidak mengandung kebermanfaatan. Ketika aku melihat murid SMP dan SMA, mereka terlihat seperti anak kecil. Padahal bila kita pernah SMP dan SMA, saat itukita merasa paling benar paling dewasa paling bebas. Mengingat hal semacam itu lagi ternyata adalah sebuah kekonyolan. Ayolah, kita sudah berkepala dua dan sudah berkuliah, apakah kita akan mengulangi cara berpikir seperti anak SMP dan anak SMA lagi? Sudah pasti tidak.

Jadi ubahlah mindsetmu untuk berpikir secara dewasa, paling tidak berusaha. Lantas kenapa harus dirubah mindsetnya? Sebab tantangan (masalah) pada saat dewasa nanti akan lebih rumit, asli! Apabila tidak ada persiapan, ya kita bakal tergerus oleh-oleh tantangan (masalah) tadi itu. Kita akan menjadi manja, Apa-apa selalu minta bantuan ke orang lain. Bukannya tidak boleh meminta bantuan sih, tapi kita memang dituntut untuk mandiri.

Bagi kalian yang masih duduk di Sekolah atau masih di awal semester, cepat atau lambat kalian akan menyadari bahwa pertemanan dengan kawan-kawan sudah tidak seperti dulu lagi. Mungkin dulu saat masih SMA, kita masih bebas asyik main dimana saja dan kapan saja. Sebab waktu masih begitu luang. Namun, berbeda ketika sudah masuk akhir semester kuliah. Kita yang dulunya punya banyak kawan akan berkurang dan semakin berkurang, dan yang dulunya selalu main bersama akan menjadi jarang. Itu fakta, sudah menjadi siklus alam. Maka dari itu yang bisa menolong kita selain tuhan yaa… kita sendiri. Butuh usaha memang, namun nikmatilah proses. Karena sudah tidak jamannya lagi nakal-nakalan seperti dulu, harus dipikirkan adalah tentang masa depan.

Belajar Kematian Dari “Si Manis”

Di saat bulan Ramadhan ada sesuatu yang berubah di rumah, di rumah selalu kedatangan tamu. Namanya adalah “si manis”. Dia adalah kucing. Kucing ini selalu mengahmpiri ke rumah dengan semangat, mungkin itu alibinya untuk meminta makanan. Hal ini cukup mengganggu dan cukup menyenangkan. Dia sangat mengganggu ketika aku sedang makan. Namanya juga kucing, mengemis-ngemis makanan. Kalau sudah seperti itu, tinggal kukasih aja kepala lele goreng, lalu kulemparkan keluar rumah. Alhasil dia akan mengejarnya kemudian menjilatinya dan memakannya. Yang menyenangkan adalah ketika dia mampir kerumah di siang bolong, aktifitas rutinnya adalah tidur. Enak sekali ya si kucing ini! Bagusnya dia tidak pernah meninggalkan kotoran. Di lantai maupu di kasur, dia selalu tidur. Bermacam-macam posisi tidur dia lakukan. Kalian tahu kan kalau kucing kalau sudah tidur, maka tidak ada rasa benci dari manusia. Yang ada malah memotretya, mengelus-ngelusnya, atau dilihatin saja. Anehnya, dimanapun dia bisa tidur. Dua tempat yang merupakan istana baginya untuk tidur adalah kasur dan lantai. Ketika sudah terlalu lama tidur di kasur, maka  dia tinggal pindah ke lantai untuk tidur lagi. Setiap hari seperti itu. Ketika aku tidur di kasur, tak jarang dia akan tidur di samping kakiku.

Ada hal lain lagi yang menarik dari kucing ini. Ketika aku akan berangkat ke masjid saat subuh. Cklek! Aku yang baru saja membuka pintu rumah, terlihat kucing yang berlari-lari untuk berusaha masuk rumah. Tentu saja tidak aku biarkan. Aku tutup pintu kembali dan kucing tersebut tidak bisa masuk. Aku yang melangkah ke masjid ternyata selalu diikuti si kucing. Si kucing yang selalu mengiringi langkah kadang di depan, kadang di belakang, kadang di samping. Sampai di jalan turunan, baru dia berhenti, mungkin sudah tidak tahu jalan. Kembali dari shalat subuh, sesampainya di jalan yang tadi dilewati, si kucing tiba-tiba muncul lagi untuk memaksa masuk rumah. Bayangkan saja waktu shubuh sudah semangat untuk masuk rumah. Tapi ya kadang aku bolehin masuk ruamah, dia palingan mau tidur-tiduran dan aku juga.

Pergi Saat Hari Lebaran

Hampir waktu maghrib saat itu. Aku dan Ibuku habis pulang dari rumah kerabat. Di saat memasuki rumah. Kakakku yang sudah tiba duluan di rumah, mengatakan bahwa ‘si manis’ mati. Oh my god….. “kayaknya dia mau ngelahirin tapi tubuhnya terlalu kecil” kata kakakku. Tapi siapa yang tahu, soalnya tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Dari kemarin sama, si kucing hanya tidur-tiduran di kasur. Ini sangat disayangkan. Pas sekali saat lebaran. Tapi ya… malaikat pencabut nyawa tidak melihat keadaan, dia hanya melaksanakan tugas. Entah itu bayi atau orang dewasa, sehat atau sakit, malam atau siang, apabila memang sudah waktunya maka nyawa akan diambil. Kematian tidak melihat semua itu. Sekarang tidak ada lagi kucing yang akan tidur-tiduran di rumah atau mengiringi langkah ke masjid. Terasa ada yang kurang? Pasti. Tapi yasudah lah. Ambil hikmahnya bahwa kita harus selalu ingat mati. Lakukanlah sesuatu yang bermanfaat selama hidupmu. Rugilah hidupmu jika hidupmu malah hanya merugikan orang lain. Bye bye si Manis.

Mencari Tajil Gratis

Bagi mahasiswa merantau, ramadhan tidak hanya sebagai bulan suci. Tapi juga sebagai ajang berhemat. Dengan cara? Tentu saja dengan mencari takjil gratis. Tidak mungkin kesempatan ini disia-sia kan. Bodoh sekali kalau tidak mau memanfaatkannya. Lihatlah!! Ada makanan gratis. Makanan bagi mahasiswa bagaikan emas 10 gram!!. Sekelompok anak kos missqueen, namun bahagia berpatroli untuk mencari dimana masjid yang menyediakan makanan enak. Mereka bernama Samsul, Beni, dan Bowo.

“Kenapa tidak di masjid kampus saja, disana disediakan jus juga loh”, Bowo memberikan usulnya

“Males ada kajiannya, dan kau tahu kan apa tema kajian hari ini?” Beni menolak keras

“Memang apa temanya?” Bowo bertanya

“Segeralah Nikah Muda” Beni menjawab datar

“Oh Tidak! Tidak! Tidak! Itu racun bagi kita yang selama kuliah ini menjomblo. Yang ada kita malah pingsan!”

“Dan kita akan masuk rumah sakit” Beni menambah kemungkinan terburuk

“Yeaahh betul, sementara kita yang missqueen ini tidak mampu membayar rumah sakit”

“Oh bagaimana ke masjid ini saja, menunya nasi kebuli. Tapi tidak ada kajian”

“Mantap lah, jarang-jarang kita bisa makan mewah ini.Yasudah kesini saja”

Samsul yang dari tadi main hp mendengarkan dengan seksama perdebatan Beni dan Bowo.

“Tapi kita tidak dapat jus gratis” Samsul mencoba mempertimbangkan kembali

“Ayolah Sul, kau ingin dapat makanan dan jus tapi hati kesakitan atau kau ingin makan dengan tenang dan bahagia” Beni mencoba menawarkan kembali

“Tentu saja aku ingin makan dengan tenang dan bahagia. Aku tidak ingin pingsan!” Samsul langsung tersadar bahwa jus bisa dikorbankan.

Samsul, Beni, dan Bowo berangkat ke masjid yang dituju pukul 17.15.Samsul  yang saat itu nebeng di motornya Bowo kaget melihat jalanan. Jalanan diisi lautan manusia yang mencari makanan untuk berbuka. Saking ramainya, jalanan sulit dilalui untuk kendaraan. Bowo yang menyetir motor harus berbelok-belok untuk melewati kerumunan orang-orang.

“Wok (panggilan bowo), gila yaa ramainya sampai segini. Sampai macet pula” Samsul berteriak

“Yelah Sul, kayak baru tau aja. Tiap tahun begini kalau ramadhan. Yang jualan es buah tumpeh-tumpeh di jalanan. Mungkin ini yang namanya keberkahan” Bowo merespon

“Coba tiap hari gini ya wok. Seru lihat kerumunan kayak gini”

“Yang ada malah bikin macet sul! Udah cukup Ramadhan aja deh”

Ketiga anak kos tersebut telah sampai di masjid yang dituju. Masuk ke dalam masjid dengan riang dan bahagia. Melepaskan sandal mereka dibawah tangga yang ada tulisan batas suci. Kemudian mereka masing-masing duduk bersila sambil ghibahin orang.

“Lihat guys, wajah orang-orang kelihatan kelaparan layaknya baju kusut” Beni mengomentari orang-orang disekitar. Wajah orang-orang memang terlihat “kusut”. Wajah mereka menggambarkan ingin segera terdengar adzan. Namanya juga puasa. Bahkan ada yang tidur-tiduran di karpet di masjid dengan tatapan kosong dan tentu saja terlihat lemas.

“Hah kau ini, nggak sadar kalo kita juga kaya mereka. Kita malah kaya orang kesakitan haha” Samsul mengomentari

Sebelum adzan, makanan sudah dibagikan terlebih dahulu. Masing-masing telah mendapatkan box nasi kebuli.

“Apakah kita pernah makan kebuli?” Bowo bertanya

“Tidak pernah” Samsul menjawab

“Bahkan untuk makan omelet saja kita mikir-mikir, ini adalah makanan yang paling istimewa yang pernah kita makan” Beni meledek

Tit… Tit.. Tit… Suara jam digital masjid berbunyi yang berarti sudah waktunya adzan. Tak lama kemudian seseorang melakukan adzan dengan suara yang indah.

Samsul, Beni, dan Bowo kemudian membaca doa buka puasa lalu melahapnya seperti belum makan selama dua hari.

Persaingan

Setelah membicarakan tentang kerasnya hidup. Selanjutnya akan membicarakan tentang sebuah kompetensi. Persaingan yang saling berlomba-lomba dengan orang lain. Apabila sebelumnya membahas tentang kerasnya hidup, yang lebih fokus kepada apa yang dihadapi oleh dirinya sendiri. Kalau persaingan lebih ke keterkaitan dengan orang lain. Karena pada dasarnya orang saling bersikut-sikutan baik secara sportif maupun tidak sportif. Sportif maksudnya bersaing dengan cara yang baik. Melakukan berbagai inovasi tanpa harus menjegal lawannya. Berbeda dengan tidak sportif, orang-orang saling menjegal demi keuntungan pribadi.

Persaingan sebenarnya sudah kita temui ketika masih kecil. Saat di SD saja yang namanya persaingan sudah kita temui. Para siswa bergiat belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus. Yang sering mendapat nilai bagus akan mendapat ranking satu. Yang tidak giat belajar akan mendapat nilai jelek. Yang sering mendapat nilai jelek akan mendapat ranking bawah. Seperti itulah persaingan. Sampai kapanpun persaingan akan selalu ada. Profesi apapun yang dipilih tetap akan menemui persaingan. Namun, dengan persaingan, justru akan membangkitkan motivasi untuk selalu belajar dan memperbaiki diri.

Dalam persaingan, setiap orang akan selalu berusaha untuk manjadi “lebih” dalam hal apapun. Kedepannya standard seseorang semakin lama semakin tinggi. Misalnya di bidang pendidikan. Di masa ayah kalian masih muda, orang rata-rata lulus SMA. Masih jarang orang-orang kuliah. Di masa kita sekarang, kuliah sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan sudah banyak orang-orang yang umurnya masih muda mengambil pascasarjana. Ini berarti semakin ke depan, orang semakin menuntut yang lebih tinggi. Selama hal tersebut bisa menunjang kualitas manusia menjadi lebih baik, maka itu sangat dianjurkan.

Begitulah kehidupan, selama masih malas-malasan saja cepat atau lambat akan disalip oleh orang lain yang lebih rajin. Makanya janganlah meremehkan waktu. Gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk masa depan. Karena waktu tidak akan bisa kembali. Jadi persiapkanlah dirimu dengan sebaik-baiknya.

Meningkatkan Kualitas Diri

Saya rasa meningkatkan kualitas diri adalah suatu kewajiban bagi semua orang. Kenapa wajib? Karena apabila orang yang tidak mau meningkatkan kualitas dirinya akan menerima akibatnya yaitu kerugian. Kerugian dalam arti tidak mampu menghadapi apa yang akan dihadapi. Hidup manusia itu penuh dengan rintangan, hambatan, dan masalah. Jika manusia tidak mampu menghadapinya niscaya akan menderita. Tidak tanggung-tanggung bunuh diri menjadi jawaban atas keputusasaan. Orang yang melakukan bunuh diri berarti sudah pesimis terhadap hidup, memang setiap orang diuji berbeda-beda. Kita harus terima kenyataan bahwa hidup itu keras. Orang yang ingin sukses tidak ada yang instan. Mereka harus mulai dari bawah. Tidak hanya itu, kadang kala persaingan juga membuat orang saling sikut-sikutan, yang kuat dialah yang menang.

Orang yang sudah mempersiapkan rencana masa depan serta mengorbankan tenaga, fikiran, dan harta kadang masih belum mencapai kesuksesan apalagi yang tidak mempersiapkannya. Buku ini mengajak penulis dan pembaca untuk bangkit menggapai masa depan yang lebih baik. Saya menulis ini bukan berarti saya sudah berada di puncak kesuksesan, tetapi tulisan-tulisan dalam buku diharapkan dapat memberi energi positif bagi penulis dan pembaca. Saya manusia, saya juga butuh proses untuk masa depan lebih baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Hal pertama yang harus kita terima dalam kehidupan ini adalah hidup itu keras, penuh persaingan, dan sesuai hukum sebab akibat. Kebanyakan orang berkhayal bahwa apapun yang ingin dicapai bisa digapai dengan mudah. Misalnya begini, orang berkhayal ingin jadi pengusaha sukses. Dia membayangkan menjadi pengusaha bidang restoran yang sukses. Dia membayangkan punya modal banyak lalu membuka restoran lalu banyak pelanggan yang tidak berhenti berdatangan lalu mempunyai cabang dimana-mana bahkan seluruh dunia, Uang berada di genggamannya tidak pernah habis sampai tujuh turunan, punya mobil mewah dan istri yang cantik. Contoh lain misalnya seseorang ingin menjadi penulis. Dia mulai menulis naskah novel dengan cepat hanya dalam satu-dua minggu. Novelnya lalu laris menjadi best seller. Karena menjadi best seller akhirnya novelnya diangkat menjadi film dan yang menjadi pemeran utamanya adalah penulisnya sendiri. Akhirnya dia menjadi penulis terkaya yang masuk dalam majalah forbes.

Hidup Itu Keras

Oke itu khayalan yang menyenangkan dan menggiurkan. Apakah salah punya khayalan seperti itu? Tidak salah, malahan khalayan bisa menjadi motivasi, namanya juga impian. Namun, perlu digaris bawahi bahwa mencapai khayalan yang diidam-idamkan tidak SESEDERHANA itu. Orang kebanyakan melupakan bahwa untuk mencapai khayalan seperti itu butuh proses. Kita lupa yang namanya proses adalah berbicara naik turun, dipukul berkali-kali, harus merasakan berada di ambang batas terlebih dahulu. Apakah pernah membayangkan seorang pengusaha sukses pernah bangkut atau barang yang dijualnya tidak laku? Apakah pernah membayangkan bagaimana naskah penulis novel pernah ditolak berkali-kali? Ingin rasanya menolak kenyataan seperti itu. Namun, kenyataan tetaplah kenyataan, tidak dapat diganggu gugat. Semua yang diinginkan ada bayarannya, bahasa kerennya no pain no gain. Yang menjadi fokus kita seharusnya ada pada proses, bukan khayalannya.  Khayalan bisa disesuaikan, cukup fikirkan hal-hal yang menyenangkan. Karena sebuah proses seringkali menggambarkan kanyataan pahit, makanya orang-orang mencoba menghindar bahkan tidak mau melihatnya. Jadi ayolah buka mata, saya tidak ingin menakut-nakuti, mari kita nikmati proses. Cukup nikmati proses, kalau jatuh bangkit lagi, kita punya akal fikiran maka manfaatkanlah. Sejatinya bila ingin sukses, harus melewati fase-fase perjuangan.

Saya menggambarkan sebuah kehidupan yang keras berkaca dari masa depan. Ini adalah sebuah keniscayaan. Di masa depan kita akan menghadapi hal-hal yang menjadi tanggung jawab diri sendiri. Agar lebih jelasnya, saya jabarkan dalam penjelasan berikut:

  1. Orang Tua Tidak Bisa Terus Menerus Membiayai Anaknya

Bayangkanlah semakin lama orang tua kita akan semakin tua. Memasuki kepala lima, enam, tujuh, dan seterusnya. Kekuatan fisik orang tua semakin lama akan semakin melemah. Walaupun orang tua juga sering juga berolahraga, tetap saja kesehatan fisik tetap berbeda dari masa-masa muda dahulu. Orang tua tidak selamanya memenuhi kebutuhan anaknya yang semakin lama semakin banyak. Apakah ketika menikah, mengurusi istri, anak, dan kebutuhan sehari-hari akan masih meminta kepada orang tua? Saya rasa hampir semuanya tidak ingin seperti itu.

Sebaliknya seorang anak yang harusnya bergantian mengurusi orang tua. Seorang anak yang sudah tumbuh dewasa sudah sepantasnya bergantian mengurusi orang tua. Sebuah peran ada masa-masa estafet untuk menyerahkan ke orang lain. Dalam hal ini, harapan orang tua tidak lain adalah anaknya sendiri.

Di masa depan, orang tua akan menjadi tanggung jawab anaknya, itu adalah keniscayaan. Persiapkanlah dirimu dari sekarang untuk memikirkan bagaimana membahagiakan orang tua. Buatlah orang tuamu bahagia sebagaimana orang tua yang selalu membahagiakan anaknya sejak kecil.

  1. Finansial

Bagian ini merupakan hal yang sangat vital bagi kehidupan sehari-hari. Tanpa finansial, orang sulit memnuhi kebutuhan. Pendapatan yang tinggi memang bagus, saya pun juga berkeinginan mempunyai pendapatan tinggi. Namun, ada hal yang lebih penting dari pada itu. Yaitu “bagaimana cara mengendalikannya”. Mengatur finansial adalah kunci dalam memenuhi kebutuhan. Baik gajimu satu juta, dua juta, tiga juta, atau bahkan dua puluh juta sekalipun apabila tidak bisa mengatur keuangan maka akan sengsara. Ya… banyak orang yang walaupun mempunyai pendapatan tinggi, tetap masih mempunyai hutang. Aneh tapi nyata. Pelajarilah pendidikan finansial. Hal tersebut akan bermanfaat di masa yang akan datang.

Mempelajari finansial saya rasa bisa dengan otoditak, lewat youtube dan buku. Hal ini karena sekolah jarang bahkan tidak ada yang mengajar tentang pendidikan finansial. Entah kenapa tidak diajarkan, padahal itu adalah hal yang sangat berguna. Malahan belajar ekonomi kadang hanya menghafal rumus-rumus permintaan dan penawaran. Bukannya tidak penting tetapi hal dasar dari sebuah ekonomi adalah dari sendiri terlebih dahulu, itu menurut saya. Selama orang tidak menguasai finansialnya dia akan kesulitan memenuhi kebutuhan ekonominya sendiri.

  1. Asmara

Asmara juga merupakan poin yang penting dalam kehidupan. Dalam hal ini saya lebih berbicara pada pernikahan bukan pacaran. Maksudnya dalam masa depan nantinya harus menikah. Tidak salah jika disiapkan finansial dari sekarang, lagi-lagi berkaitan dengan finansial. Tentu saja pernikahan juga tidak gratis. Berbicara pernikahan tidak hanya tentang akad nikah atau resepsi. Tetapi juga kehidupan setelah akad nikah. Kebutuhan tentu saja akan bertambah. Kehidupan pernikahan tentu saja tidak berjalan sendiri. Yang menjadi kunci adalah komitmen. Makanya , saya tidak menyarankan pacaran. Karena pacaran belum masuk ke real life. Komitmen dalam pacaran tidak terlalu kuat. Orang bisa putus dengan mudahnya, orang belum tentu tahu kebiasaan jelek pasangannya. Dalam pernikahan komitmen dan kepercayaan adalah kunci kesuksesan. Siapkan finansial dan mental untuk menjemput pernikahan.

Sebuah pernikahan juga harus ditentukan kapan waktunya. Target umur berapa akan menikah menurut saya penting. Lebih baik jangan terlalu tua untuk melakukan pernikahan. Namun juga jangan terlalu buru-buru. Silahkan tentukan umur berapa akan menikah, saya tidak akan memaksakan nikah muda yang selalu digembor-gemborkan, tidak akan. Kalian bebas menentukan. Karena itu adalah kehidupan kalian, kalian lah yang menentukan. Yang terpenting jangan lah tidak menikah atau terlalu lama untuk menikah. Selama sudah mampu nuntuk menikah, silahkan. Saya setuju dengan apa yang ditulis di buku Hal-Hal Yang Perlu Dicapai Sebelum Usia 30 Tahun, karya Annabella J. Setyaka. Untuk menikah sebaiknya sebelum umur tiga puluh, Karena dalam menjalani kehidupan pernikahan, perlu belajar adaptasi dan belajar mengontrol emosi. Maka tidak baik apabila menunda terlalu lama.

  1. Tekanan Mental

Di masa depan, tanggung jawab akan semakin banyak. Sebuah mental yang kuat sangat diperlukan untuk menghadapi tekanan kedepannya. Karena kebahagiaan tergantung dari mindset diri sendiri. Seseorang bisa melewati berbagai tekanan, kuncinya adalah dengan mindset yang tidak mengambil pesimis dalam menanggapi berbagai kehidupan. Kedepannya akan kita akan mempunyai prioritas mulai dari orang tua, istri, anak, rumah, keuangan, dll. Apabila mental tidak dipersiapkan dari sekarang, maka dikhawatirkan kedepannya tidak mampu menghadapi masalah-masalah. Padahal kehidupan itu keras, kita perlu berjuang dan perlu berkorban.

Sikap yang egois atau bahasa lainnya “kekanak-kanakan” akan menimbulkan masalah tidak selesai. Solusi tidak pernah tercapai alias buntu. Padahal kita melihat masa depan akan banyak prioritas. Dengan banyaknya prioritas, tekanan juga semakin banyak.

  1. Kesehatan

Semakin tua kekuatan fisik akan semakin berkurang. Umur tiga puluhan tentu berbeda dengan umur tujuh belasan. Mau makan saja sempat berfikir dahulu. Entah kolesterol lah…gula tinggi lah. Jujur, sakit itu merepotkan. Selain membutuhkan biaya, sakit memenjarakan tubuh untuk bergerak. Sekaya apapun seseorang, tetapi bila orang itu tidak pernah memperhatikan kesehatan dan akhirnya sakit, itu sama saja. Uang hanya untuk membiayai kesehatan.

Tidak semua orang di masa tua sakit-sakitan. Ada juga orang yang bahkan umurnya tujuh puluhan masih sehat dan tegap. Lihat saja Donald Trump, ketika menjadi presiden umurnya sudah mencapai tujuh puluh tahunan. Hebat bukan main. Itu semua adalah hasil dari umur-umur sebelumnya digunakan untuk menjaga kesehatan juga.

Bukankah lebih menyenangkan apabila masa tua masih melakukan hal-hal yang produktif? Donald Trump mempunyai bisnis yang lancar, dia juga menjadi presiden di negara yang paling kuat saat ini yaitu Amerika Serikat. Bayangkan saja tekanan seperti apa menjadi presiden. Banyak fikiran dan melakukan berbagai pertimbangan demi masyarakat.

Contoh lain seperti Mohammad Mahathir. Di umur sembilan puluhan tahun dia masih saja memikirkan urusan politik. Bagi kita umur segitu hanya memikirkan hidup tenang. Semua punya pilihan. Setiap pilihan mempunyai dampaknya. Sederhana saja, apabila sering menjaga kesehatan, maka akan sehat.